Illustrasi
Soppeng, Mitrabuser.com, Polemik keluarnya delapan relawan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lalabata Bila 2 akhirnya mendapat tanggapan dari Kepala Dapur SPPG Lalabata Bila 2, Syarifuddin.
Syarifuddin membantah anggapan bahwa pihak dapur memberhentikan seluruh delapan relawan tersebut. Menurutnya, persoalan berawal dari berkurangnya jumlah Penerima Manfaat (PM) yang berdampak pada kebutuhan tenaga relawan.
Ia menjelaskan, jumlah PM yang sebelumnya mencapai 1.978 orang kini turun menjadi sekitar 1.600 orang. Penetapan jumlah penerima manfaat tersebut, kata dia, merupakan kewenangan pihak pusat.
“Yang sebelumnya 1.978 turun menjadi 1.600. Penentuan PM itu dari pusat. SMPN 2 Soppeng sebelumnya sebagai PM, sekarang sudah tidak lagi,” ujar Syarifuddin saat ditemui di Cafe Daffa, Senin pagi. (28/9/2026).
Menurutnya, SPPG dengan jumlah sekitar 2.000 PM maksimal membutuhkan 40 relawan. Ketika jumlah PM turun menjadi 1.600, otomatis terjadi penyesuaian jumlah tenaga.
Syarifuddin mengakui adanya pengurangan pembayaran sebesar Rp10 ribu selama 10 hari. Namun, menurutnya, kekurangan pembayaran tersebut telah dikembalikan kepada relawan sebesar Rp100 ribu.
Ia juga menjelaskan posisi Wiryawan Anugrah yang disebut sebagai relawan cadangan. Rencana awal, kata Syarifuddin, hanya satu relawan cadangan yang akan diistirahatkan sementara dan dapat dipanggil kembali apabila SMPN 2 Soppeng kembali menjadi penerima manfaat.
“Yang tujuh orang lainnya yang keluar itu atas usulan list setelah disampaikan siapa yang mau keluar, dengan kekhawatiran jangan sampai diharap dan kemudian tidak bekerja pada malamnya untuk persiapan besoknya,” jelasnya.
Syarifuddin menegaskan, pihak dapur tidak mengeluarkan seluruh delapan relawan tersebut.
“Bukan pihak dapur yang keluarkan semua, hanya satu saja yang relawan cadangan,” tegasnya.
Sementara itu, Asisten Lapangan SPPG Lalabata Bila 2, Irsa, mengatakan pihaknya telah menyampaikan sebelumnya kepada Divisi Pengolahan agar persoalan pengurangan relawan dibicarakan bersama koordinator dan relawan.
Namun, menurut Irsa, setelah pembicaraan tersebut muncul daftar nama relawan yang keluar.
“Sudah disampaikan untuk berembuk, namun mereka keluar,” kata Irsa.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan delapan relawan tersebut direkrut kembali, Syarifuddin mengatakan kemungkinan tersebut cukup berat.
Irsa menambahkan, masih terdapat sejumlah relawan cadangan yang menunggu apabila jumlah PM kembali normal.
Polemik ini pun menyisakan dua versi keterangan. Dari sisi relawan, keluarnya mereka dikaitkan dengan persoalan pemotongan pembayaran yang sebelumnya dipersoalkan. Sementara pihak pengelola SPPG menyebut keluarnya relawan berkaitan dengan penyesuaian tenaga akibat penurunan jumlah penerima manfaat.
Kini, penjelasan lebih lanjut mengenai mekanisme pengurangan pembayaran, status delapan relawan, serta dasar penyesuaian tenaga menjadi bagian penting untuk memperjelas persoalan di SPPG Lalabata Bila 2.
(AJS)

