Soppeng, Mitrabuser.com, Tidak semua toga lahir dari perjalanan yang mudah. Di balik senyum seorang wisudawati, terkadang ada cerita panjang tentang kehilangan, perjuangan, doa, dan orang-orang yang memilih untuk tetap bertahan di sisinya.
Kisah itu dirasakan Mardiana Umar, S.Pd., wisudawati STAI Al-Gazali Soppeng yang mengikuti prosesi wisuda, Minggu (27/9/2026).
Mardiana berhasil menuntaskan pendidikan tingginya dengan IPK 3,8 dan predikat Cumlaude.
Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga. Namun, di balik gelar sarjana yang kini disandangnya, ada kisah hidup yang membuat momen wisuda itu terasa jauh lebih bermakna.
Mardiana lahir pada 19 Juni 2003. Ia merupakan putri dari almarhum Umar Husaen dan St. Nurjannah.
Sang ayah, yang semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah SDN 163 Labessi, meninggal dunia ketika Mardiana masih berada dalam kandungan.
Artinya, sejak pertama kali membuka mata di dunia, Mardiana sudah menjalani hidup tanpa sosok ayah kandung di sisinya.
Ia tidak pernah merasakan tangan ayahnya menggandeng menuju sekolah. Tidak pernah mendengar suara ayahnya memberikan semangat secara langsung. Dan tidak pernah melihat sang ayah duduk menyaksikan pencapaian-pencapaian dalam hidupnya.
Namun, kehilangan itu tidak menghentikan langkahnya.
Dalam perjalanan hidupnya, hadir Akhmad Mario, Pemimpin Redaksi Media Online Zonabuser.id, yang kemudian menjadi ayah tirinya.
Bukan sekadar hadir dalam status keluarga, Akhmad Mario berusaha mendampingi Mardiana dalam perjalanan pendidikannya.
Dari masa TK, melanjutkan pendidikan di Mangkoso, hingga akhirnya memasuki perguruan tinggi di STAI Al-Gazali Soppeng.
Ada perjalanan mengantar dan menjemput.
Ada kebutuhan pendidikan yang harus dipenuhi.
Ada semangat yang harus terus diberikan.
Dan ada banyak hal yang mungkin tidak tercatat dalam lembar ijazah, tetapi menjadi bagian penting dari perjalanan seorang anak hingga berhasil menyelesaikan pendidikannya.
Hingga pada Minggu, 27 September 2026, semua perjalanan itu seakan menemukan satu titik penting.
Mardiana mengenakan toga.
Namanya dipanggil sebagai salah satu lulusan.
Dan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) resmi disandangnya.
Lebih membanggakan lagi, ia berhasil meraih IPK 3,8 dengan predikat Cumlaude.
Bagi Akhmad Mario, momen tersebut bukan hanya tentang keberhasilan akademik.
Ada perasaan haru ketika melihat anak yang selama ini didampingi akhirnya mampu berdiri sendiri sebagai seorang sarjana.
"Bukan semata tentang gelar sarjana, tetapi tentang sebuah perjalanan hidup yang panjang," ungkapnya.
Perjalanan yang dimulai dari sebuah kehilangan, kemudian dilanjutkan dengan perjuangan panjang hingga akhirnya berbuah keberhasilan.
Akhmad Mario pun mengungkapkan rasa syukurnya.
"Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah memberikan kekuatan untuk melewati setiap perjalanan ini," tuturnya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh Mardiana dapat menjadi bekal dalam menjalani kehidupan ke depan.
Bukan hanya untuk mencari keberhasilan bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi jalan untuk mengabdi, membahagiakan keluarga, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Sebab, hari wisuda bukanlah akhir dari perjalanan.
Justru, setelah toga dilepas dan gelar sarjana disandang, perjalanan baru dimulai.
Mardiana kini melangkah membawa ilmu, doa keluarga, dan cerita hidup yang akan selalu menjadi bagian dari dirinya.
Ayah kandungnya memang telah pergi sebelum ia sempat mengenalnya.
Namun, kasih sayang dan perjuangan orang-orang yang hadir dalam hidupnya telah mengantarkan Mardiana hingga sampai pada hari yang membanggakan itu.
Dari kehilangan, lahir keteguhan. Dari perjuangan, lahir keberhasilan. Dan hari ini, Mardiana berdiri sebagai seorang sarjana dengan predikat Cumlaude.
Selamat wisuda, Mardiana Umar, S.Pd.
Semoga gelar yang diraih menjadi awal dari langkah panjang menuju masa depan yang penuh keberkahan.
(AJS)

