Soppeng, Pertemuan Kelompok Kerja Kepala Sekolah Dasar (K3SD) Kecamatan Lalabata, Rabu (15/7/2026), tak hanya membahas agenda rutin. Forum yang berlangsung di SDN 5 Mattiropole itu juga menjadi ruang bagi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng, Dr. Nur Alim, untuk menyampaikan sejumlah pesan penting terkait arah kebijakan pendidikan di Kabupaten Soppeng.
Salah satu yang menjadi perhatian Dr. Nur Alim adalah keikutsertaan perdana Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Kabupaten Soppeng dalam forum K3SD Kecamatan Lalabata. Menurutnya, kehadiran SRT menjadi awal yang baik untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antarsatuan pendidikan.
"Semakin banyak ruang untuk saling berbagi pengalaman, semakin besar peluang kita meningkatkan mutu pendidikan bersama," pesannya.
Ia juga meluruskan persepsi mengenai penerapan absensi digital SETARA. Menurutnya, sistem tersebut bukan untuk mempersulit guru maupun aparatur sipil negara, melainkan untuk membangun disiplin dan memastikan waktu kerja lebih efektif.
Di hadapan para kepala sekolah, Dr. Nur Alim turut mengingatkan bahwa digitalisasi pendidikan bukan lagi pilihan. Pemanfaatan laptop dan perangkat teknologi harus menjadi bagian dari proses pembelajaran agar sekolah mampu mengikuti perkembangan zaman.
Selain itu, menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, ia mengajak seluruh sekolah membenahi lingkungan masing-masing, mulai dari membersihkan halaman, memperbaiki pagar hingga menata taman agar tercipta suasana belajar yang lebih nyaman.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng, H. Andi Zulkarnain, mengingatkan para kepala sekolah agar tidak larut dalam rutinitas administrasi hingga melupakan tujuan utama pendidikan.
"Saat ini tantangan pendidikan bukan lagi kekurangan aturan, tetapi bagaimana memastikan setiap kebijakan benar-benar berdampak pada kualitas belajar anak," katanya.
Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), digitalisasi, dan perubahan karakter peserta didik menuntut kepala sekolah untuk terus belajar dan beradaptasi.
Ia juga mendorong K3SD menjadi wadah berbagi praktik-praktik baik antarsekolah, bukan sekadar forum penyampaian informasi.
"Tidak ada sekolah yang sempurna. Tetapi setiap sekolah pasti memiliki praktik baik. K3SD harus menjadi tempat saling belajar, bukan sekadar tempat menyampaikan informasi," ujarnya.
Di akhir penyampaiannya, Andi Zulkarnain menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya rapat maupun laporan administrasi, melainkan dari manfaat yang dirasakan peserta didik.
"Ukuran keberhasilan kita bukan banyaknya rapat atau laporan yang disusun, tetapi ketika anak-anak pulang dari sekolah membawa ilmu, karakter yang baik, dan semangat untuk terus belajar. Itulah tujuan utama pendidikan," pungkasnya.
(AJS)

