Di Tengah Derita Gaza, Syekh Yahia Taha Ajak Warga Soppeng Renungkan Nikmat yang Sering Dilupakan -->

 


Translate


Di Tengah Derita Gaza, Syekh Yahia Taha Ajak Warga Soppeng Renungkan Nikmat yang Sering Dilupakan

Selasa, 23 Juni 2026


Soppeng, Mitrabuser.com, Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Miftahul Khaer pada Selasa (23/6/2026) ba’da Subuh. Ratusan jamaah menghadiri kegiatan Safari Dakwah Peduli Palestina yang menghadirkan langsung ulama asal Gaza, Syekh Yahia Taha, dalam sebuah tausiyah bertema syukur dan kepedulian kemanusiaan.


Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian dakwah dan aksi solidaritas untuk rakyat Palestina, yang tidak hanya berfokus pada penggalangan kepedulian, tetapi juga memperkuat nilai spiritual umat Islam di tengah kondisi dunia yang penuh ujian.


Dalam ceramahnya, Syekh Yahia Taha mengangkat tema besar tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan. Dengan gaya penyampaian yang tenang namun menyentuh, ia mengajak jamaah untuk kembali merenungi betapa banyak nikmat yang sering terabaikan dalam kehidupan sehari-hari.


“Sering kali manusia hanya melihat apa yang belum ia miliki, tetapi lupa menghitung nikmat yang sudah ada di hadapannya,” ujar Syekh Yahia di hadapan jamaah yang memenuhi masjid.


Ia menegaskan bahwa jika manusia mencoba menghitung seluruh nikmat Allah, maka niscaya tidak akan mampu melakukannya karena begitu banyaknya karunia yang telah diberikan, mulai dari kesehatan, keamanan, keluarga, hingga kesempatan untuk beribadah.


Dalam penjelasannya, Syekh Yahia Taha menekankan bahwa syukur bukan hanya sekadar ucapan “Alhamdulillah”, tetapi sebuah kesadaran yang menyeluruh. Syukur, menurutnya, harus tercermin dalam tiga aspek utama: hati yang mengakui nikmat Allah, lisan yang selalu memuji-Nya, dan perbuatan yang menggunakan nikmat tersebut di jalan kebaikan.


Ia juga mengingatkan bahwa seluruh pencapaian manusia—baik berupa jabatan, kekayaan, kecerdasan, maupun kesuksesan—pada hakikatnya adalah anugerah dari Allah SWT, bukan semata hasil usaha manusia.


“Segala yang kita miliki adalah titipan. Allah-lah yang memberi, dan kepada-Nya semuanya akan kembali,” jelasnya.


Suasana menjadi lebih hening ketika Syekh Yahia Taha menyampaikan kondisi masyarakat Gaza yang hingga kini masih hidup dalam keterbatasan akibat konflik berkepanjangan. Meski berada dalam situasi sulit, ia menuturkan bahwa masyarakat Palestina tetap berusaha menjaga keimanan dan rasa syukur kepada Allah SWT.


Ia mengajak jamaah di Indonesia untuk menjadikan keteguhan rakyat Palestina sebagai pelajaran berharga dalam menghadapi kehidupan. Menurutnya, banyak orang yang hidup dalam kelapangan namun justru lalai dari rasa syukur, sementara sebagian lainnya yang berada dalam kesempitan tetap mampu menjaga keimanan.


Selain tausiyah, kegiatan ini juga menjadi momentum penguatan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina. Jamaah diajak untuk tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mengambil peran dalam bentuk kepedulian nyata terhadap sesama umat Islam yang sedang mengalami kesulitan.


Panitia kegiatan menyampaikan bahwa Safari Dakwah Peduli Palestina bukan hanya agenda seremonial, melainkan upaya berkelanjutan untuk membangun kesadaran umat terhadap pentingnya persaudaraan Islam dan kepedulian global.


Dalam kesempatan tersebut, panitia juga menyerahkan sertifikat penghargaan kepada para donatur yang telah berpartisipasi dalam mendukung program kemanusiaan Palestina. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi masyarakat dalam membantu meringankan beban saudara-saudara mereka di Palestina.


Ketua panitia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi.


“Kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian semua jamaah dan donatur. Semoga setiap bantuan menjadi amal jariyah dan membawa keberkahan,” ujarnya.


Ia juga menambahkan bahwa antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa semangat solidaritas dan kepedulian umat masih sangat kuat, terutama ketika menyangkut isu kemanusiaan yang melibatkan dunia Islam.


Kegiatan Safari Dakwah Peduli Palestina ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan umat Islam di seluruh dunia, kemajuan bangsa Indonesia, serta perdamaian dan kemerdekaan bagi rakyat Palestina.


Suasana haru menyelimuti akhir acara, dengan banyak jamaah yang terlihat terdiam dalam refleksi mendalam. Pesan utama yang tertinggal dari kegiatan ini adalah bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada materi atau jabatan, melainkan pada kemampuan untuk mensyukuri setiap nikmat yang telah diberikan Allah SWT.


Acara ini diharapkan menjadi pengingat berkelanjutan bagi masyarakat bahwa di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tantangan, nilai syukur, empati, dan solidaritas tetap harus dijaga sebagai bagian dari keimanan.


(AJS)