GEGER Soppeng di MTQ Sulsel 2026, Tak Ada Juara, Tapi “Hadiah Spesial” Kabag Kesra Bikin Kafilah Tersenyum di Tengah Kegagalan! -->

 


Translate


GEGER Soppeng di MTQ Sulsel 2026, Tak Ada Juara, Tapi “Hadiah Spesial” Kabag Kesra Bikin Kafilah Tersenyum di Tengah Kegagalan!

Sabtu, 18 April 2026


Makassar, Mitrabuser.com, Ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Kabupaten Maros tahun ini menyisakan cerita yang cukup mengejutkan dari Kabupaten Soppeng.


Bukan soal prestasi gemilang, melainkan hasil yang justru menjadi bahan evaluasi besar-besaran, tidak satu pun peserta Soppeng berhasil meraih juara.


Bahkan lebih mengejutkan, kafilah MTQ Soppeng harus puas berada di peringkat bawah klasemen, tepatnya posisi ke-22. 


Capaian ini menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak dan memunculkan diskusi serius soal pembinaan generasi Qur’ani di daerah tersebut.


Namun di tengah hasil yang kurang menggembirakan itu, suasana mendadak berubah hangat ketika Kabag Kesra Kabupaten Soppeng, Andi Muh. Taufik, memberikan kejutan tak terduga kepada para peserta.


Usai penutupan kegiatan MTQ, para peserta yang telah berjuang selama satu pekan penuh mendapat “bonus penyemangat” yang tak biasa. Mereka diajak berbelanja dan menikmati kuliner di salah satu pusat perbelanjaan modern di Kota Makassar.


Langkah ini sontak membuat suasana yang sebelumnya tegang berubah menjadi penuh tawa dan kehangatan.


“Saya ingin mengapresiasi langsung dedikasi kafilah MTQ kita. Ini bentuk dukungan moral agar mereka tetap semangat,” ujar Andi Taufik, Minggu (19/4/2026).


Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut dilakukan di hari terakhir agar tidak mengganggu fokus peserta selama lomba berlangsung.


Meski hasil belum memuaskan, pihak Kesra Soppeng menegaskan bahwa MTQ bukan hanya soal juara.


“Apapun hasilnya, ini harus menjadi motivasi. Ilmu yang dimiliki para peserta tidak hanya untuk lomba, tetapi juga untuk diamalkan dan disebarkan di masyarakat,” tambahnya.


Menariknya, Andi Taufik juga menekankan bahwa seluruh peserta merupakan putra-putri asli daerah Soppeng, tanpa peserta “pinjaman” dari luar daerah.


Di sisi lain, hasil buruk Soppeng langsung memicu reaksi keras dari kalangan pengamat. Sejarawan lokal, Ahmad Saransi, menyebut kondisi ini sebagai alarm serius bagi pembinaan MTQ di daerah tersebut.


Menurutnya, minimnya kompetisi berjenjang menjadi salah satu penyebab utama merosotnya prestasi.


“Tanpa wadah kompetisi yang rutin, potensi generasi muda sulit berkembang,” tegasnya.


Ia bahkan mengusulkan agar tradisi lama seperti lomba MTQ tingkat kecamatan hingga tingkat wanua yang pernah berjaya sejak tahun 1969 kembali dihidupkan.


Meski hasil kali ini mengecewakan, pemerintah dan tokoh masyarakat Soppeng berkomitmen untuk melakukan evaluasi besar-besaran.


Harapannya jelas yakni ingin mengembalikan kejayaan Soppeng di ajang MTQ tingkat provinsi dan melahirkan generasi Qur’ani yang mampu bersaing di level lebih tinggi.


“Ini bukan akhir, tapi awal untuk bangkit,” menjadi semangat yang digaungkan di tengah evaluasi besar ini.


MTQ tahun ini mungkin menjadi pukulan bagi Soppeng, namun di balik itu muncul cerita humanis tentang apresiasi, motivasi, dan harapan kebangkitan.


Sebuah kisah yang menunjukkan bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran, tapi proses dan pembinaan jauh lebih penting untuk masa depan.


(Aswan JS)