Soppeng, Mitrabuser.com, Kabupaten Soppeng bersiap melangkah ke era baru pertanian berbasis teknologi. Pemerintah Kabupaten Soppeng menggelar Focus Group Discussion (FGD) strategis sebagai langkah awal menuju transformasi sistem pertanian modern melalui pelaksanaan Survey Investigasi Desain (SID) optimalisasi lahan non rawa.
Kegiatan yang berlangsung di ruang pimpinan Kantor Bupati Soppeng ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan titik awal integrasi antara kebijakan nasional dan visi daerah dalam membangun ekosistem pertanian masa depan yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan. Kamis (26/3/2026).
FGD ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, hingga sektor energi.
Hadir langsung Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, bersama tim ahli dari LPPM Universitas Hasanuddin yang dipimpin oleh Andang Suryana Soma, Ph.D, serta perwakilan PLN yang membawa perspektif penting terkait infrastruktur kelistrikan.
Salah satu gagasan utama yang mencuat dalam forum ini adalah konsep “listrik masuk sawah”, sebuah pendekatan revolusioner yang memanfaatkan energi listrik untuk mendukung sistem irigasi modern.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian musim, ketersediaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian.
Dengan adanya listrik di area persawahan, petani dapat mengoperasikan pompa air secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada hujan, serta meningkatkan intensitas tanam.
Bupati Soppeng Suwardi Haseng menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari transformasi besar menuju pertanian berbasis teknologi.
“Kami ingin menghadirkan solusi nyata. Listrik masuk sawah bukan sekadar program, tapi fondasi menuju pertanian modern yang mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.
Pelaksanaan SID menjadi jantung dari keseluruhan program ini. Dengan pendekatan berbasis data, setiap keputusan teknis akan ditentukan melalui analisis potensi lahan dan kebutuhan riil petani.
Tim dari Universitas Hasanuddin menjelaskan bahwa pemetaan akan dilakukan secara presisi menggunakan data Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) yang telah dikumpulkan oleh penyuluh pertanian di lapangan.
Pendekatan ini memungkinkan intervensi yang lebih tepat sasaran, meminimalkan risiko kegagalan program, serta memastikan bahwa setiap rupiah anggaran memberikan dampak maksimal.
Peran PLN dalam forum ini menjadi salah satu elemen kunci. Dalam era pertanian modern, energi bukan lagi faktor pendukung, melainkan bagian integral dari sistem produksi.
PLN menyatakan kesiapan untuk mengembangkan jaringan listrik yang mampu menjangkau wilayah persawahan, sekaligus memastikan kapasitas daya yang memadai untuk mendukung aktivitas pertanian berbasis teknologi.
Sinergi antara sektor energi dan pertanian ini diyakini akan menjadi model baru pembangunan berbasis kolaborasi lintas sektor.
Transformasi ini juga didukung oleh komitmen pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian yang mengalokasikan anggaran sekitar Rp67 miliar dalam program Optimasi Lahan (OPLAH) tahun 2026.
Anggaran tersebut akan difokuskan untuk meningkatkan produktivitas lahan non rawa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, sekaligus mempercepat adopsi teknologi di tingkat petani.
Melalui FGD ini, seluruh pihak diharapkan memiliki visi yang selaras dalam membangun sistem pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga tangguh terhadap perubahan zaman.
Kabupaten Soppeng kini tidak hanya berbicara tentang peningkatan hasil panen, tetapi juga tentang bagaimana teknologi, energi, dan data dapat bersatu menciptakan ekosistem pertanian masa depan.
Dengan langkah ini, Soppeng menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah yang siap menjadi pelopor transformasi pertanian menuju era digital dan berkelanjutan di Indonesia.
(Aswan JS)


