Soppeng, Mitrabuser.com, Ramadan tidak selalu harus dimaknai sekadar sebagai ritual puasa dan berbuka. Dalam perspektif yang lebih luas, bulan suci ini juga dapat menjadi laboratorium pembelajaran kehidupan, tempat nilai spiritual, kebersamaan, dan intelektualitas bertemu dalam satu momentum yang sederhana namun bermakna.
Hal tersebut tercermin dalam kegiatan Buka Puasa Bersama (Bukber) yang digelar oleh para siswa Kursus Bahasa Inggris Sanggar Masumange SDN 7 Salotungo di kawasan Pasar Ramadan Sukses 2026 di lapangan Gasis Watansoppeng, Senin (9/3/2026).
Di tengah keramaian pedagang, aroma makanan berbuka, serta hiruk-pikuk masyarakat yang berburu takjil, para siswa justru menghadirkan suasana belajar yang berbeda: learning in a real social context.
Kegiatan ini didampingi langsung oleh mentor mereka, Miss Kiky, yang memandang bahwa pembelajaran bahasa seharusnya tidak selalu terkurung di ruang kelas.
Menurutnya, kemampuan bahasa akan berkembang lebih hidup ketika siswa berinteraksi langsung dengan realitas sosial.
“Language grows through experience. When students speak, observe, and interact in real situations, their confidence naturally develops,” ujarnya.
Bukber tersebut dihadiri oleh sejumlah siswa yang aktif mengikuti kursus bahasa Inggris di Sanggar Masumange, yakni:
A. Rania Mallarangeng
Aisyah Kayla Bilqis
Wereati Tuppuricinna
Nur Fadillah
Attiya Amira Azzahrah
Jihan Talita Ulfa
Arinda Nur Maulidya.
Menariknya, selama kegiatan berlangsung para siswa tidak hanya berbincang santai, tetapi juga mencoba mempraktikkan percakapan bahasa Inggris sederhana sambil mengamati berbagai aktivitas di Pasar Ramadan.
Mereka belajar menyebut nama makanan, mengekspresikan perasaan, hingga berbagi cerita menggunakan bahasa yang sedang mereka pelajari.
Pendekatan seperti ini dalam dunia pendidikan modern dikenal sebagai contextual learning, yaitu metode pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata.
Bagi para siswa SDN 7 Salotungo, pengalaman kecil ini memiliki makna besar. Mereka belajar bahwa bahasa bukan sekadar mata pelajaran, melainkan alat untuk memahami dunia.
Salah seorang peserta, A. Rania Mallarangeng, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan tersebut.
“Belajar bahasa Inggris di luar kelas terasa lebih menyenangkan. Kita bisa langsung mencoba berbicara dan saling membantu,” katanya.
Kegiatan sederhana ini sekaligus menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak selalu memerlukan panggung besar. Terkadang, ruang belajar terbaik justru hadir di tengah kehidupan sehari-hari.
Melalui Sanggar Masumange, para siswa SDN 7 Salotungo diperkenalkan pada cara belajar yang lebih luas: belajar berpikir, belajar berkomunikasi, dan belajar membangun kepercayaan diri sejak usia dini.
Di tengah suasana Ramadan yang penuh keberkahan, kegiatan bukber ini menjadi simbol kecil bahwa ilmu, persahabatan, dan spiritualitas dapat tumbuh bersama.
Dari pertemuan sederhana di Pasar Ramadan itu, satu pesan pendidikan kembali ditegaskan:
(Aswan JS)

