Belajar Takbir dengan Hati: Anak-Anak SDN 7 Salotungo di Akhir Madrasah Ramadhan -->

 


Translate


Belajar Takbir dengan Hati: Anak-Anak SDN 7 Salotungo di Akhir Madrasah Ramadhan

Sabtu, 14 Maret 2026


Soppeng, Hari terakhir sekolah di bulan suci Ramadhan 1447 M di SDN 7 Salotungo tidak hanya diisi dengan suasana perpisahan sementara menjelang libur Idul Fitri. Di sekolah ini, hari terakhir Ramadhan justru menjadi pelajaran hati bagi murid-murid.


Di halaman sekolah yang sederhana namun penuh keberkahan, para murid bersama seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan mempraktikkan takbiran menjelang Shalat Idul Fitri. Sabtu (15/3/2026). 


Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah Abdul Asis, S. Pd I, yang membimbing anak-anak bukan hanya membaca takbir, tetapi juga memahami makna di balik kalimat suci tersebut.


Anak-anak diajak melafalkan takbir dengan perlahan:


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar


Namun mereka tidak hanya membaca huruf Arabnya. Mereka juga diajak memahami bahwa kalimat itu berarti Allah Maha Besar. Lebih besar dari gunung, lebih besar dari langit, bahkan lebih besar dari semua keinginan manusia.


Ketika anak-anak mengucapkan, "Laa ilaaha illallah, "mereka diajarkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tempat manusia bersandar ketika senang maupun susah.

Saat kalimat "Walillahil hamd" dilantunkan, anak-anak belajar bahwa segala puji hanya milik Allah, yang telah memberi kehidupan, keluarga, guru, dan kesempatan merasakan Ramadhan.


Kemudian mereka juga memahami bahwa Allah Maha Suci, dan manusia harus berusaha menjaga hatinya agar tetap bersih—seperti hati setelah berpuasa.


Dengan bahasa sederhana, Kepala Sekolah Abdul Asis, S. Pd I menjelaskan kepada murid-murid bahwa takbir bukan sekadar suara yang keluar dari mulut, tetapi dzikir yang harus hidup di dalam hati.


Jika hati merasa Allah Maha Besar, maka anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang baik: berkata jujur, menghormati guru, menyayangi teman, dan berbuat kebaikan.


Di hari menjelang  akhir Ramadhan itu, suara takbir anak-anak SDN 7 Salotungo terdengar lembut namun penuh makna. Seolah-olah dari sekolah sederhana itu, anak-anak sedang belajar satu rahasia besar dalam hidup: mengenal Allah dengan hati yang bersih.


Dan dari sanalah pendidikan sejati dimulai—mendidik akal, sekaligus menerangi hati.