Menjemput Ramadhan dengan Hati yang Tunduk, Refleksi Keluarga Besar SDN 7 Salotungo di Bulan Suci 1447 H -->

 


Translate


Menjemput Ramadhan dengan Hati yang Tunduk, Refleksi Keluarga Besar SDN 7 Salotungo di Bulan Suci 1447 H

Selasa, 17 Februari 2026

Soppeng, Mitrabuser.com, Ramadhan 1447 Hijriah datang seperti fajar yang lembut, mengetuk kesadaran dan memanggil jiwa untuk kembali. Ia bukan sekadar bulan ibadah, melainkan undangan Ilahi untuk menundukkan hati, membersihkan niat, dan menata ulang langkah kehidupan, termasuk dalam perjalanan pendidikan.

Keluarga besar SD Negeri 7 Salotungo menyambut bulan suci ini dengan penuh kerendahan hati. Kepala sekolah, Abdul Asis, S. Pd I, menyampaikan bahwa Ramadhan adalah ruang muhasabah, tempat setiap insan belajar mengakui kekurangan sebelum menuntut kesempurnaan.

“Menjemput Ramadhan berarti menjemput cahaya dengan hati yang tunduk. Dalam perjalanan mendidik anak-anak, kami menyadari masih terdapat kekurangan. Masih ada dinamika seperti perundungan, perkelahian kecil antar peserta didik, serta kelalaian dalam penegakan tata tertib, baik dari saya pribadi maupun dari rekan-rekan tenaga pendidik dan kependidikan. Kami tidak ingin menutupinya, karena pengakuan adalah awal dari perbaikan,” tuturnya dengan tulus.

Upaya pencegahan dan pembinaan telah dilakukan melalui imbauan lisan, surat tertulis, serta edukasi melalui media sosial. Namun, pihak sekolah menyadari bahwa setiap ikhtiar manusia harus disertai kerendahan hati untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Dalam semangat kolaborasi, SD Negeri 7 Salotungo terus membangun koordinasi bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng melalui pengawas, korwil, dan jajaran teknis terkait. Sinergi juga diperkuat dengan Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng sebagai mitra strategis dalam menjaga mutu dan etika pendidikan.

Tak kalah penting, komunikasi yang harmonis terus dijalin bersama Komite Sekolah dan seluruh orang tua/wali murid. Sekolah meyakini bahwa pendidikan adalah amanah bersama; tidak ada keberhasilan tanpa kebersamaan, dan tidak ada perbaikan tanpa keterbukaan.

“Atas nama keluarga besar SD Negeri 7 Salotungo, kami memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas segala kekhilafan dan kekurangan kami. Ramadhan ini kami jadikan sebagai titik balik untuk menjadi lebih bijaksana, lebih tegas dalam kebaikan, dan lebih lembut dalam membimbing,” lanjut Kepala Sekolah.

"Semoga Ramadhan 1447 H menjadi madrasah jiwa yang melahirkan kesadaran, menguatkan keikhlasan, dan menjadikan sekolah ini sebagai taman ilmu yang teduh, tempat anak-anak tumbuh dengan adab, kasih sayang, dan keberkahan, tandasnya. 

Marhaban Yaa Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin.

(AJS)