Serukan Perlawanan, Warga Ukraina: Kami Tak Takut Mati, Ini Tanah Air Kami -->

 


Translate


Serukan Perlawanan, Warga Ukraina: Kami Tak Takut Mati, Ini Tanah Air Kami

Minggu, 06 Maret 2022


Kharkiv (Ukraina), Mitrabuser.com,-Alexandra Markevitch melarikan diri dari Kharkiv pada Minggu, ketika peluru pasukan Rusia menghujani lingkungan tempat tinggalnya dan tembakan mengguncang kotanya.


Dia lari bersama putranya, Pasha, ke stasiun, hanya membawa beberapa dokumen, foto keluarga, dan baju hangat, dan mereka berhasil naik kereta menuju arah barat.


Ketika gelombang tekanan dari serangan roket menghantam kereta, Markevitch takut kereta akan anjlok.


Ketika kereta berhasil melewati pinggir kota dan suara ledakan, dia berusaha menenangkan putranya. Hari itu adalah hari ulang tahunnya ke-11.


Rusia membombardir Kharkiv sejak menginvasi Ukraina pada Kamis, menembaki kawasan pemukiman dan pusat kebudayaan kota itu.


Pada Selasa, gedung opera Kharkiv, gelanggang konser dan gedung-gedung pemerintah dihantam serangkaian serangan, menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai lebih banyak lagi.


Wali Kota Kharkiv menyampaikan serangan roket terpisah di lingkungan pemukiman menghancurkan rumah sakit, menewaskan beberapa orang dan melukai banyak orang.


Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menyebut serangan di Kharkiv “serangan teror terhadap Ukraina”, seperti dikutip dari BBC, Rabu (2/3).


Ribuan orang saat ini melarikan diri dari kota itu, meninggalkan rumah, keluarga, dan pekerjaan mereka.


Banyak yang melarikan diri menggunakan kereta menuju kota Lviv di Ukraina barat, ada juga yang menuju tempat penampungan pengungsi darurat di sebuah bioskop tua.


Markevitch (29), duduk sendiri di sana pada Selasa, di atas sebuah matras. Keluarga dan kawan-kawannya masih berada di Kharkiv.


Banyak warga di sana tidak bisa melarikan diri. Baru beberapa hari yang lalu dia bersama mereka, bersembunyi di sebuah tempat berlindung di bawah gedung apartemen, tempatnya dingin dan lembab, tanpa listrik, tanpa pemanas dan makanan. Dia sangat khawatir dengan putranya.


Di atas tanah mereka bisa mendengar “setiap suara peperangan”, ujarnya.


“Tembakan, pengeboman, roket, pesawat tempur. Tidak ada yang tidur karena pengeboman terjadi sepanjang hari dan sepanjang malam.”.


Tiga hari tiga malam setelah invasi dimulai, dan “penuh ketakutan saya akan kehilangan putra saya,” Markevitch membuat pilihan.


“Apakah Anda menghadapi maut di sana atau Anda menghadapi maut di jalan,” ujarnya.


“Setidaknya di jalan Anda punya kesempatan untuk menuju tempat yang aman.”.


Dia tetap menjalin kontak dengan keluarganya dan mereka dalam keadaan baik.


“Secara fisik, mereka masih hidup,” ujarnya.


“Secara spiritual, hidup menjadi sangat sulit di Kharkiv”.


Hanya 30 mil dari perbatasan dan sebagian besar berbicara bahasa Rusia, Kharkiv telah lama dianggap sebagai target nyata invasi ini.


Pasukan Rusia terlibat pertempuran dengan tentara Ukraina yang mempertahankan kota itu, dan kota itu telah dibombardir dari udara, menewaskan banyak warga sipil.


Menari dalam kegelapan


Iryna Ruzhynska (40), berlindung di koridor lantai dua apartemennya bersama dua putranya, menantu, dan cucunya. Ibu Ruzhynska yang berusia 75 tahun terjebak di lantai 11 apartemennya karena lift gedung itu tak berfungsi.


“Kami menempelkan selotip di jendela dan meletakkan bantal di dekat jendela,” ujarnya.


“Kami tidak menyalakan lampu, hanya senter dari ponsel kami. Kami berusaha pergi ke toko kemarin, tapi kami mengantre selama berjam-jam dan sebenarnya tidak ada makanan yang tersisa di sana,” lanjutnya.


Jalan di dekat apartemen Ruzhynska ditembaki pada Senin, ledakan dahsyat yang membuat bagian tubuh berserakan di jalan. Ketika dia membuka jendela dia bisa mendengar tembakan dan bom.


“Melelahkan dan mengerikan tinggal di bawah tekanan,” ujarnya.


“Dan saya marah, karena ini kota besar, indah, kotaku, dan mereka ingin menghapusnya dari muka Bumi.”


Semalam saat malam telah larut, saat semua keluarganya tertidur di lorong apartemen, Ruzhynska memasang earphone dan menari dalam kegelapan, “mencoba dan melepaskan emosiku,” ujarnya.


“Lalu saya menangis dengan senyap dalam waktu yang lama.”


Dia mendengar lagu seorang penyanyi Rusia.


“Karena kami orang-orang yang damai. Tidak masalah bagi kami.”


Tak takut mati


Yehor Konovalov (23), melarikan diri dari Kharkiv setelah pengeboman. Dia melarikan diri bersama orang tua dan dua saudara kandungnya dan menuju properti bisnis keluarganya di sebuah desa dekat Donetsk. Pada Selasa, keluarga itu berlindung di ruangan dingin seluas 2×2 meter saat ledakan terdengar di kejauhan.


“Ketika penembakan mulai, adekku yang berumur delapan tahun membangunkanku jam empat pagi dan mengatakan, ‘Yehor mereka menembak, mereka meledakkan bom di Kharkiv’.”


“Saya tidak bisa mempercayainya. Lalu saya mendengar bom dan melihat awan abu melayang di atas cakrawala.”


Keluarga Konovalov hanya memiliki tiga botol air minum dan hanya sedikit makanan yang tersisa untuk persediaan beberapa hari untuk lima orang keluarganya.


“Kami harus ke Ukraina Barat, agar ibu dan adik-adikku aman dan aku serta ayahku bisa bergabung dengan pasukan pertahanan teritorial,” ujarnya.


“Kami tidak takut untuk mati untuk membunuh mereka yang menyerang tanah air kami.”


Andrey Akonenko (22), seorang desainer web yang melarikan diri dari Kharkiv pada Selasa dengan pacarnya mengatakan dia juga akan mendaftar untuk ikut berperang membela Ukraina. Hal itu disampaikan saat diwawancara BBC dari Poltava, 150 kilometer dari Kharkiv.


“Mereka menembaki area pemukiman kami, gedung apartemen kami – padahal tidak ada situs militer di sana di mana mereka mengebom,” ujarnya.


“Mereka berusaha menghancurkan rakyat Ukraina,” lanjutnya.


Presiden Rusia, Vladimir Putin mengklaim pihaknya membebaskan kota-kota dan distrik di Ukraina timur seperti Kharkiv dari penindasan pemerintah Ukraina, tapi selama delapan tahun perang Putin tampaknya hanya memperkuat patriotisme rakyat Ukraina.


“Saya tidak pernah merasakan cinta yang begitu besar untuk tanah air dan kota saya,” kata Markevitch.


“Saya harap perang akan berakhir dan saya bisa membawa anak saya pulang ke Khakiv secepatnya, ”pungkasnya.