Suta Widhya: Momen Sumpah Pemuda Menjadi Pelecut Menolak Pemerintahan Yang Gagal? -->

 


Translate


Suta Widhya: Momen Sumpah Pemuda Menjadi Pelecut Menolak Pemerintahan Yang Gagal?

Kamis, 28 Oktober 2021


Jakarta, Mitrabuser.com,-Setiap momen menjadi acuan untuk menyatakan pendapat. Tidak terkecuali dengan yang terjadi Kamis(28/10) saat  suasana Sumpah Pemuda yang ke-92, Jakarta dibanjiri oleh demonstrasi yang menginginkan Jokowi Mundur.

Aneka spanduk terbentang di jalan - jalan seputar patung kuda. Antara lain terlihat  spanduk yang dibawa oleh para demonstran dengan tulisan *"Mosi Tidak Percaya Kepada DPR RI dan Pemerintahan Jokowi-Maruf. JOKOWI MUNDUR"*.


Massa  para pendemo yang berjumlah puluhan itu berasal dari Aliansi Rakyat Menggugat (ARM)   didominasi oleh kaum ibu  yang titik kumpulnya di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. 

Bukan hanya kaum ibu yang  membawa sejumlah poster garang meminta Jokowi Mundur. Tapi ada juga sindiran lucu seperti  "Ngurus Cabe Aja Tidak  Becus, Kok Ngeyel Minta 3 Periode", "Stop Arogansi Aparat Keamanan", "Usir Penjajah Gaya Baru: Cina Komunis", hingga ada pula spanduk "Bebaskan Habib Rizieq".

Tidak ketinggalan Orator yang berada di mobil komando  meneriakkan soal cabut Omnibus Law - UU Cipta Kerja. Semua muaranya _untrust_ pada  Jokowi  yang diminta mundur.


 Aksi massa juga disertai  lantunan lagu-lagu kebangsaan yang menambah heroik suasana. Tampaknya Hari Sumpah Pemuda menjadi acuan demo selanjutnya pasca dilonggarkannya PSBB. 

Massa aksi  yang berkumpul untuk menggelar aksi unjuk rasa berkaitan dengan evaluasi 2 tahun pemerintahan Joko Widodo - Maruf Amin, sekaligus bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Sejumlah poster tuntutan  agar Korban PHK diperhatikan karena buruh menolak dijadikan tumbal kegagalan pengelolaan negara. 

Aparat keamanan  yang bersiaga di sekitar kawasan Patung Kuda, tepatnya di Jalan Medan Merdeka Barat telah menyiagakan kawat berduri, mobil water cannon, hingga aparat dengan pakaian Alat Pelindung Diri.

Sementara itu di luar persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Penasehat Hukum Ruslan Buton, Suta Widhya SH menjelaskan bahwa apa yang dikatakan oleh Ruslan Buton ternyata juga dikatakan oleh para demonstran hari ini. Tapi, apakah para demonstran itu terpengaruh oleh tulisan Surat Terbuka Ruslan Buton yang diluncurkan 18 Mei 2020? Tentu saja tidak. 

"Massa aksi hari ini adalah kesadaran kolektif masyarakat. Bahwa benar ada yang keliru di negeri ini dalam tata kelola negara terlihat nyata. Banyak janji-janji kampanye calon presiden inkumben pada pra April 2019  banyak yang tidak mampu ia penuhi." Tutup Suta.